Investigasi Jurnalistik: People Trail (Melacak Orang) 8

Jumat, 6 Nov '09 10:42

Ada dua tahap dalam investigasi: tahap mencari bukti dan tahap mencari kesaksian untuk menguatkan atau justru mementahkan bukti. Dalam tahap mencari kesaksian, metode yang digunakan adalah people trail, yakni menelusuri keberadaan dan jati diri seseorang atau narasumber. Baik mereka yang diduga terlibat, pelaku utama, maupun mereka yang mengetahui seluk beluk masalah tersebut.

Metode ini akan membantu jurnalis memetakan dengan baik, siapa menjalankan peran apa, dan siapa yang memiliki versi lain atas semua keterangan yang ada.

Ide dasar dari metode people trail dalam investigasi adalah:

1. Untuk mengetahui para aktor dalam sebuah kasus dan memilah-milah perannya.
2. Mencari keterkaitan antara satu kejadian dengan kejadian lain, melalui benang merah orang.
3. Menemukan sumber-sumber penting lain yang bisa membantu wartawan memecahkan kasus tersebut.

Kunci dari metode ini adalah orang. Poin nomor dua misalnya, kemunculan orang yang sama pada kasus-kasus yang berbeda, bisa menjadi indikasi bahwa kasus ini terjadi secara sistematis atau terencana.

Wartawan senior seperti Yosef Ardi (mantan Redaktur Pelaksana Bisnis Indonesia) yang hobi mengkliping iklan kematian selama 14 tahun, selalu menyarankan metode ini dalam memulai investigasi atas kasus apapun, terutama kejahatan ekonomi atau skandal keuangan. Dengan mencari jatidiri orang per orang, jurnalis bisa membongkar motif atau kasus yang lebih besar dari apa yang terlihat di depan mata. Iklan kematian yang dikliping Yosef adalah petunjuk penting atas silsilah dan relasi keluarga dari kalangan etnis tertentu.

People trail bisa membantu kita menarik benang merah atas sebuah kasus berdasarkan kemunculan nama-nama tertentu. Sebab, ada juga benang merah dari faktor lain seperti aliran uang, kesamaan lokasi, pola waktu, atau kemiripan teknik dan modus kejahatan yang dilakukan.

Memulai people trail bisa dari memetakan siapa saja yang diuntungkan atau siapa yang dirugikan dari sebuah kasus. Lalu setelah orang per orang dipetakan, bisa menggunakan analisis unit sosial atau struktur sosial untuk membantu kita memperoleh gambaran yang lebih jelas.

Dalam kasus pembunuhan atau kejahatan kemanusiaan, misalnya, jurnalis mengidentifikasi siapa saja yang diuntungkan dengan kematian seseorang. Setelah diperoleh sejumlah nama, dari setiap nama bisa ditarik garis ke atas berdasarkan struktur sosial. Misalnya bila ia pegawai atau karyawan, maka siapa atasannya. Bila ia seorang anggota perkumpulan, siapa ketua atau yang dituakan. Bila ia seorang polisi atau tentara, maka siapa komandannya. Atau garis horizontal, siapa teman-temannya, siapa peer group-nya, kawan nongkrong atau bergosipnya.

Secara unit sosial, mereka juga bisa dipetakan dalam berbagai lingkup aktivitasnya. Misalnya, selain berprofesi sebagai tentara, apakah yang bersangkutan juga tercatat menjadi anggota klub penari balet atau ketua RT. Dengan demikian, kita bisa menelusuri seseorang atau orang lain dari jejak-jejak relasi-relasi sosial yang dimilikinya.

Saya menemukan segala jatidiri, foto, hingga video agen BIN Budi Santoso (saksi kunci kasus pembunuhan Munir), tidak melalui institusi kemiliteran yang memang cenderung tertutup. Sebagai mantan Kasrem Yogyakarta yang juga membina semua batalyon Resimen Mahasiswa, foto dan datanya tak pernah saya temukan meski saya sudah “menggeledah” semua isi kantor Menwa di tiga kampus besar di Yogya. Semua keterangan, identitas, dan foto-fotonya justru saya temukan di irisan sosial yang lain: yakni sebagai anggota sebuah klub olah raga. Sebab, sekali lagi, manusia bukanlah makhluk “kuper” yang hanya punya satu dunia.

Seseorang yang pendiam dalam pekerjaannya (karena tidak bekerja dalam tim), bisa saja punya kelompok main kartu, dan di komunitas itu, dia lah yang paling aktif dan banyak bicara. Dialah sumber informasi tempat anggota komunitas itu meng-update kabar atau gosip.

Analisis struktur sosial atau unit sosial ini juga akan membantu kita menelusuri keberadaan seseorang, dan sekaligus berpikir bahwa dia pun bukanlah pelaku tunggal. Apalagi, bila kita gagal menemukan motif di balik tindakannya (melakukan sesuatu).

Para penembak Hakim Agung Syaifuddin Kartasasmita (Juli 2001), tidak punya motif atas kematiannya. Karena itu, patut diduga seseorang telah mengirim mereka, dan belakangan terbukti Tommy Soeharto lah dalang yang memiliki motif dendam karena Syaifuddin menghukumnya dalam kasus tukar guling aset Goro dan Bulog.

Demikian juga dengan para pembunuh Nasrudin Zulkarnaen, Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran (Maret 2009). Bila Kombes Williardi Wizar tidak memiliki motif atas kematian NZ, maka patut diduga ada orang lain yang telah menggerakkannya. Analisis ini juga berlaku bagi Sigid Haryo Wibisono, Antasari Azhar, dan seterusnya.

Dalam kasus Munir, Pollycarpus sebenarnya juga tidak punya motif kuat selain yang disebut-sebut di persidangan (oleh hakim) bahwa dia didorong oleh rasa kebangsaan dan nasionalisme. Nilai yang absurd ini barangkali semakin membuat orang bingung, mengapa kecintaan pada bangsa justru diungkapkan dengan menghabisi nyawa anak bangsa yang lain. Karena itu banyak pihak, termasuk polisi, masih percaya bahwa Pollycarpus tidak bekerja sendiri karena memang tidak pernah berhubungan atau disakiti oleh Munir.

Anda bisa mengembangkan pendekatan sendiri, karena pada dasarnya kerja-kerja investigasi adalah seni, bukan ilmu eksakta yang penuh teori.


Mencari dan Mengumpulkan Kesaksian
Sekali lagi, inti dari kerja-kerja investigasi adalah dua hal saja: tahap mencari bukti fisik dan tahap mengumpulkan kesaksian, yang keduanya bisa dibolak-balik. Dalam rangka mengumpulkan kesaksian itulah, jurnalis bisa menggunakan metode people trail (yang juga digunakan untuk mencari pihak-pihak yang terlibat).

Secara sederhana, mengumpulkan kesaksian adalah mencari orang-orang yang bisa membantu kita memecahkan persoalan. Atau dengan cara yang agak “sembrono”, ini merupakan kegiatan mengumpulkan keterangan dari mereka yang “berpihak” kepada hipotesis kita. Berpihak dalam pengertian mendukung proses kerja, bukan dalam makna sikap atau nilai.

Seperti halnya dokumen atau bukti fisik, narasumber-narasumber ini bisa saja dikatergorikan sebagai narasumber primer atau narasumber sekunder. Meski kadang yang disebut primer dan sekunder tak selalu jelas batasnya. Penjaga makam de Guzman dalam investigasi Bondan Winarno untuk skandal Busang (1997), barangkali narasumber sekunder, tetapi keterangannya sangat penting bagi Bondan yang dari semula sudah mencurigai bahwa mayat yang dikubur di Manila itu bukan mayat Michael de Guzman. Dan anggota keluarganya tahu itu, maka mereka pun tak pernah menziarahinya, meski mereka terus mempertahankan sandiwara kematian de Guzman.

Narasumber yang muncul sepintas lalu, tak berarti tidak penting. Dalam investigasi pengadaan minyak mentah (crude) Zatapi, sebenarnya Yosep Suprayogi (Tempo) tak mudah menemukan kapal tanker Four Springs di dermaga kilang Cilacap. Tapi dari mulut seorang karyawan biasa terlontar sepenggal info penting bahwa kapal-kapal berukuran besar biasanya buang jangkar di dermaga laut dekat Nusakambangan. Dan benar saja.

Orang-orang dengan jabatan yang tidak terlalu penting ini kadang juga menjadi narasumber kunci (whistle blower) yang memberikan informasi sebagai orang dalam. Di titik ekstrem yang lain, seorang whistle blower bisa juga berarti orang penting seperti dalam kasus Watergate di Amerika atau pembocor RAPBN 1973/1974 kepada koran Sinar Harapan.

Secara empirik, jenis-jenis narasumber yang biasa kita temui dalam liputan investigasi adalah sebagai berikut:

1. Narasumber petunjuk: whistle blower, orang dalam, the insider
2. Narasumber utama (primer): pelaku, saksi mata
3. Narasumber pendukung (sekunder): informan, pemberi informasi latar belakang (backgrond info), sumber-sumber formal (resmi).
4. Narasumber ahli (expert source): membantu informasi dan pemahaman teknis bidang tertentu dalam sebuah kasus.

Perhatikan bahwa sumber-sumber formal (resmi) seperti pejabat, jurubicara, humas, atau corporate secretary hanyalah sumber sekunder alias pendukung dalam sebuah proyek investigasi. Sementara yang disebut narasumber ahli tidak selalu bergelar doktor atau profesor. Bila Anda sedang menginvestigasi pembalakan liar, maka yang dimaksud ahli di sini bisa saja penduduk setempat yang mengetahui perbedaan antara kayu-kayu yang dilindungi seperti Mahoni, Damar, Merbau, atau Meranti, dengan kayu-kayu kelas kampung sepeti kayu pohon Mangga, Karet, atau kayu Sembarang.

Ketika meliput pembalakan liar di Leuser, narasumber ahli saya adalah seorang pemuda bekas pegawai penebang liar yang bisa membedakan umur dan jenis sebuah kayu, hanya dengan mencuil potongan kayu dengan golok, lalu menciumi aromanya. Informasi umur kayu sangat penting sebagai petunjuk apakah kayu itu diambil dari hutan alam atau hutan industri. Narasumber ahli yang lain adalah mantan kombatan GAM yang sangat mengenal medan, menguasai teknik bertahan hidup (survival), dan mampu melacak keberadaan para pembalak.

Sementara ketika menginvestigasi jaringan penjual ginjal Indonesia-Singapura (2007), narasumber ahli saya adalah seorang dokter ginjal cum polisi yang bisa membedakan mana bekas potongan operasi untuk mengambil organ (donor/penjual), dan mana bekas potongan operasi untuk pencangkokan (penerima/pembeli).

Semua jenis narasumber memang harus dipetakan atau diklasifikasikan posisi dan perannya, agar kita tidak bingung atau saling tertukar. Kita merasa sudah berbicara dengan banyak orang dan mengumpulkan informasi dan pendapat mereka, tertanya semuanya adalah narasumber sekunder, dan kita belum menemukan seorang pun yang bisa menjadi narasumber petunjuk konon lagi narasumber utama.

Narasumber petunjuk biasanya adalah pihak yang perlu dicari pertama kali. Dari merekalah informasi tentang siapa yang terlibat dan bukti-bukti apa yang ada, biasanya datang. Mereka juga yang akan memberi petunjuk langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk sampai pada target atau narasumber utama.

Setelah itu, sebelum mencapai narasumber utama, biasanya wartawan akan mengumpulkan sejumlah informasi dari narasumber pendukung (sekunder), baik dalam rangka mencari jatidiri dan lokasi sang target, atau dalam rangka mengumpulkan “amunisi” agar siap menghadapi sang target.

Target atau narasumber utama sendiri belum tentu pelaku. Dia bisa saja seorang saksi mata, pihak yang ikut mengalami, korban, atau saksi kunci yang mengetahui betul duduk perkara sebuah peristiwa.

Dalam kasus pemilikan senjata gelap dan ribuan amunisi secara ilegal di rumah almarhum Brigadir Jenderal Koesmajadi (Juni 2006), pelaku utama dinyatakan mati, yang tak lain adalah Koesmajadi sendiri. Maka secara jurnalistik, narasumber utama dalam kasus ini sudah bergeser dari pelaku ke (misalnya) pihak keluarga almarhum yang mengetahui bahwa rumahnya telah dijadikan arsenal oleh sang jenderal. Atau kesaksiannya bisa juga sebalikya, bahwa arsenal itu mungkin “diciptakan” setelah kematian, dan ada pemain lain yang lebih besar dari Koesmajadi.

Secara umum, biasanya wartawan menggunakan analogi menyantap bubur panas untuk membedakan mana narasumber utama dan mana narasumber petunjuk atau pendukung. Menyantap bubur panas harus dimulai dari pinggir mangkuk agar lidah tidak terpanggang, baru kemudian perlahan-lahan mendekati bagian tengah. Perumpamaan lain yang populer adalah mengupas bawang merah. Semakin banyak lapisan tipis yang dikupas, semakin dekat kita dengan bagian inti bawang.

Hanya bila muncul keajaiban atau “mukjizat” dalam kasus-kasus tertentu, kita bisa menemukan pentunjuk atau bukti yang langsung mengarah pada sang dalang meski mata rantai pelaksananya belum terkuak sepenuhnya. Dalam menyasar narasumber utama, jurnalis biasanya bekerja dengan logika ini: melipir dari pinggir menuju inti di tengah. (DDL)


Tag: Investigasi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

yusro 0 0
Pelor yang dimiliki wartawan adalah pertanyaan. Pertanyaan yang logic dan strategic, itulah yang akan membantu menguak masalah.
blontankpoer 0 0
cepete Si Om yang satu ini. tiba-tiba sudah ada tulisannya...
wahyu 0 0
dasyat bung!
addiehf 0 0
maju terus........ ayo selidik-selidik : D
Mas Paman 0 0
Hebat! Investigasi oleh warga punya sekian jalur, termasuk (mungkin) SPG showroom mobil (kasus korupsi sebuah bank BUMN -- ada yang borong mobil tunai), sopir, kerabat (cek perjalanan yang dipamerkan), dst. Ini keren benget.

BTW cara Yosef Ardi itu wahhhh keren. Emapt belas tahun. Selama, dari baca iklan dukacita, saya bisa nebak bisnis almarhum dan ahli warisnya. Mungkin katro, saya baru tahu kaitan Surya Paloh dan salah satu jaringan Cendana boyz dari iklan begituan. Ternyata ada hubungan ipar. : )
jashitam 0 0
keren!
Dandhy Dwi Laksono 0 0
Thanks for komen dan apresiasinya, Kawan-kawan (DDL)
syrudatin 0 0
investigasi memang sgt penting bagi jurnalis, tp masalahnya siapa yg berani ambil resiko,jika belum ada jaminan atau backup dari media yang dinaunginya .
mis : asuransi jiwa yg cukup besar..krn rata2 yg mengungkap kasus2 korupsi yg diduga melibatkan pejabat di negeri ini, ttdk pernah luput dari ancaman ,intimidasi, bahkan berujung kematia seorang jurnalis, yg hanya mendapt ucapan belasungkawa , tanpa ada yg memikirkan bgmana kelangsungan hidup anak istri sang wartawan tsb

Silahkan login untuk memberikan pendapat