Investigasi Jurnalistik: Mencari Para Pembisik 6
Sabtu, 7 Nov '09 06:39
Pada tahun 1973, koran Sinar Harapan pernah dibredel gara-gara laporan Panda Nababan tentang Rancangan APBN tahun anggaran 1973-1974. Di masa rezim Orde Baru, memang “haram” hukumnya mempublikasikan sesuatu yang belum disampaikan presiden. Berita RAPN itu menggemparkan karena dimuat Sinar Harapan sebelum Soeharto membacakannya di depan DPR. Panda sendiri memeroleh dokumen itu dari salah seorang narasumber. Ia pun didesak untuk mengungkap siapa sumber yang membocorkan kepadanya.
Dalam jurnalistik, narasumber jenis ini populer disebut deep throat. Panda memilih bungkam dan menyembunyikan deep throat-nya, hingga kini. Aristides Katoppo, atasan Panda-lah yang pasang badan dan kehilangan jabatannya sebagai Redaktur Pelaksana –sebuah syarat agar Sinar Harapan bisa terbit lagi.
Deep throat bila diterjemahkan artinya “tenggorokan yang dalam”. Istilah ini sebenarnya diadopsi dari film-film porno. Deep throat digunakan sebagai nama sandi seorang narasumber yang memberikan banyak bocoran dan petunjuk selama proses investigasi The Washington Post dalam skandal Watergate yang legendaris itu. Secara umum, istilah deep throat juga dikenal dengan sebutan whistle blower. Dalam jurnalistik ini dimaknai sebagai “orang dalam” yang memberi informasi penting dalam sebuah proses investigasi.
Dalam kasus skandal pajak Asian Agri, Vincentius Amin Sutanto adalah whistle blower. Dalam kasus pembunuhan Munir, mantan agen BIN, Budi Santoso adalah whistle blower meski ia tak pernah bisa dihadirkan ke ruang sidang. Dalam kasus pencampuran bahan kimia yang bisa membuat ketagihan pada perusahaan rokok Brown & Williamson di 60 Minutes CBS, Jeff Wigand yang mantan vice president perusahaan itu, juga whistle blower.
Informasi dari para whistle blower selalu penting meski harus diverifikasi berulang-ulang. Ada whistle blower yang muncul terang-terangan, ada yang meminta agar jatidirinya dirahasiakan. Identitas whistle blower atau deep throat dalam kasus Watergate, baru muncul 30 tahun kemudian. Itu pun atas kemauannya sendiri. Nama aslinya Mark Felt, seorang pejabat FBI yang mengaku tak puas dengan cara pemerintah menangani kasus pembobolan kantor Partai Demokat di Hotel Watergate itu. Felt membuka jatidirinya pertama kali di majalah Vanitiy Fair pada tahun 2005, sebelum akhirnya meninggal tahun 2008 di usia 95 tahun.
Mereka yang berpotensi menjadi whistle blower antara lain:
1. Orang dalam instansi atau kelompok yang menjadi target
2. Pesaing atau kompetitor (contoh: dalam tender proyek)
3. Bekas orang-dalam (yang sudah pensiun, keluar, atau pindah)
4. Kelompok yang menjadi oposan (“barisan sakit hati” atau kelompok yang dimarginalkan)
5. Orang-orang di lingkaran target yang tertangkap, sedang dihukum, atau “bertobat”
Mengapa saya tidak memasukkan kelompok whistle blower yang dimotivasi oleh idealisme atau dituntun nilai-nilai spiritual religius dalam membongkar sebuah kasus?
Bila kita menemukannya, anggap saja bonus. Sebab, sebagian besar whistle blower datang dengan informasi di mana melekat pula berbagai kepentingan. Semakin “kotor” seorang whistle blower, justru kadang semakin tinggi kualitas informasinya. Sebab dia berada di lingkaran pertama sumber masalah itu.
Jadi bila kita menolak informasi dari seorang yang potensial menjadi whistle blower, hanya karena dia pernah “berbuat dosa” atau kita duga punya kepentingan, maka kita telah melewatkan sebuah kesempatan berharga. Sebab, tugas jurnalis justru mengambil inti sari persoalan dan membidiknya untuk melindungi kepentingan publik, dan memilahnya dari berbagai kepentingan yang mencoba menjadi penunggang. Mustahil mengharapkan seorang whistle blower dari “kalangan orang baik-baik” untuk membantu kita mengurai jaringan pengedar obat terlarang. Demikian pula dengan kelompok-kelompok yang melakukan korupsi, terorisme, pembalak hutan, prostitusi, atau kejahatan terhadap kemanusiaan.
Tapi di bagian lain kita akan bicarakan bagaimana seharusnya jurnalis merespon informasi dari para whistle blower yang punya 1001 motivasi ini. Sebagian wartawan menyatakan, “sambar saja, demi kepentingan publik yang lebih luas”. Namun sebagian lain menganjurkan: lakukan investigasi dua arah.
Nah, apa pula itu? (DDL)
Tag: Investigasi
Terkait:
-
Investigasi Jurnalistik: Apa Itu Investigasi? (3)
Kamis, 12 Nov '09 13:26 -
Investigasi Jurnalistik: Apa Itu Investigasi? (2)
Selasa, 10 Nov '09 08:53 -
Investigasi Jurnalistik: Apa Itu Investigasi? (1)
Minggu, 8 Nov '09 18:10
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
jna: Penting
Hermawan Sulistyo, Pengamat Politik

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat