Investigasi Jurnalistik: Apa Itu Investigasi? (1) 1

Minggu, 8 Nov '09 18:10

Bondan 'mak nyus' Winarno mendatangi sebuah komplek pemakaman mewah di ibukota Filipina, Manila. Namanya Holy Cross Memorial Park, tempat jenazah Michael de Guzman dimakamkan. Michael de Guzman bukan koki terkenal yang masakannya kerap dicicipi Bondan dalam acara-acara kuliner. Guzman adalah salah seorang eksekutif perusahaan tambang asal Kanada, Bre-X, yang diberitakan tewas bunuh diri melompat dari helikopter pada 19 Maret 1997, di pedalaman Kalimantan Timur.

Karena berkewarganegaraan Filipina, kematian Guzman menimbulkan komplikasi diplomatik antara Manila dan Jakarta. Presiden Filipina waktu itu, Fidel Ramos, ikut angkat bicara. Apalagi, Guzman adalah geolog kebanggaan Filipina yang bekerja di sebuah perusahaan tambang dan mengklaim menemukan 40 juta ons emas di Busang, Kalimantan Timur. Bila diuangkan, kandungan emas sebesar itu ditaksir bernilai 25 miliar dolar Amerika!

Sejak mereka umumkan temuan itu, harga saham Bre-X Minerals, Ltd. melonjak tinggi dan para eksekutifnya seperti David Walsh atau John Felderhof  kaya mendadak. Termasuk de Guzman. Saham Bre-X yang pada Maret 1995 hanya dihargai 50 sen dolar Kanada, terus ajojing hingga menembus 200 dolar, dan menyentuh puncak sejarahnya di level 286,5 dolar Kanada pada akhir September 1996.

Bila saya bayangkan dengan nilai kurs rupiah saat ini (1 dolar Kanada kira-kira Rp 9.100), maka hanya dalam hitungan 18 bulan, nilai saham Bre-X telah membengkak dari Rp 4.550 menjadi Rp 2,6 juta per lembar! Bila Anda menyimpan 1 lot saja (500 lembar), maka dalam tempo hanya setahun setengah, modal Anda terlontar dari Rp 2,3 juta menjadi Rp 1,3 miliar! Padahal emasnya belum lagi benar-benar dikeruk dari perut bumi.

Pejabat Indonesia di bawah rezim Soeharto ikut membesar-besarkan temuan kandungan emas ini. Lalu para kroni Cendana pun menyiapkan diri sebagai mitra lokal bagi perusahaan-perusahaan tambang asing yang berminat pada Busang. Semua siap berebut Busang. Singkat cerita, Bre-X menggandeng Freeport yang berpengalaman menambang emas di Papua. Adapun mitra lokalnya adalah Nusamba, milik Bob Hasan. Tapi Freeport tak mau beli kucing dalam karung. Ia bermaksud memastikan kandungan emas yang diklaim Bre-X dengan melakukan pengujian di lokasi dan tes laboratorium sendiri. Dan hasil... abrakadabra!

Freeport terperangah. Kandungan emas di Busang ternyata tak seheboh yang digembar-gemborkan Bre-X. Freeport lalu meminta penjelasan. Pada hari di mana seharusnya Bre-X memberi penjelasan kepada geolog-geolog Freeport itulah, de Guzman diberitakan "melompat bunuh diri dari helikopter". Bre-X mulai ketahuan belangnya. Ternyata Bre-X diduga kuat "meracuni" mata bor mereka dengan kandungan emas yang dicomot dari daerah lain, sehingga seolah-olah Busang adalah surga logam mulia. Dalam bahasa sederhana, ini adalah kasus penipuan ala dunia pertambangan.

Tak pelak, harga saham Bre-X anjlok terbanting. Eksekutifnya dikejar-kejar berbagai pihak dimintai pertanggungjawaban. Pemerintah Indonesia jadi bahan tertawaan masyarakat internasional karena dianggap bernegosiasi dengan penipu. Tak heran bila eksekutif puncak di Bre-X seperti David Walsh memilih kabur ke Kepulauan Bahama, dan Michael de Guzman memilih jalan kematian. Begitulah anggapan banyak orang. Tapi tidak bagi Bondan.

Kembali ke pemakaman Holy Cross di Manila, Filipina. Petugas keamanan di sana bertanya apakah Bondan keluarga atau kerabat de Guzman. Bondan pun menjawab, bukan. Petugas makam lalu bercerita bahwa sejak dikebumikan 4 April 1997 hingga hari di mana Bondan datang, 22 April, tak seorang kerabat pun yang menziarahi makam itu.

Bondan sontak heran. Bagaimana mungkin di makam seorang yang dianggap "pahlawan geologi" bagi Filipina, dan membuat Istana Malacanang angkat bicara dalam kasus kematiannya itu, tak sedikit pun didapati karangan bunga, bekas dupa, atau lilin. Bondan pun semakin yakin bahwa jenazah yang dikubur itu bukanlah Michael Antonio Tuason de Guzman.

Lalu jenazah siapa?  Di mana de Guzman? Dan apa yang terjadi?

Tiga pertanyaan pendek itu akan dijawab Bondan melalui upaya penelusuran yang panjang, berliku, dan memakan biaya karena harus melakukan perjalanan ke berbagai kota dunia seperti Toronto dan Calgary (Kanada). Tapi apa yang membuat Bondan yakin bahwa ada sandiwara di balik cerita kematian de Guzman, selain fakta bahwa kuburannya tak diziarahi orang?

Dalam bukunya, Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi, Bondan mengonstruksi sejumlah fakta yang berserak dan merangkainya menjadi sebuah dugaan.

Fakta-fakta itu adalah sebagai berikut:

  1. Michael de Guzman adalah seorang pria yang menikmati hidup. Isterinya empat orang yang tersebar di berbagai negara, termasuk di Bogor dan Sulawesi. Apakah pria dengan kenikmatan duniawi seperti ini mudah bunuh diri?
  2. Guzman sudah mencairkan nilai sahamnya senilai 4,8 juta dolar Amerika, meski emas di Busang belum lagi ditambang. Mungkinkah orang yang merencanakan mati mencairkan asetnya? Atau bila dibalik: mungkinkah orang yang baru mencairkan asetnya memilih mati?
  3. Sebelum "bunuh diri", Guzman meninggalkan sejumlah surat wasiat. Sementara eksekutif Bre-X lainnya menganggap Guzman dihabisi pihak lain. Bukankah kedua fakta ini saling bertolak belakang? Mengapa pihak Bre-X tidak "satu skenario" dalam hal ini?
  4. Cerita tentang perusahaan yang mengaku menemukan kandungan emas besar, tapi akhirnya bodong, bukan barang baru di dunia pertambangan. Pada 1980, sebuah perusahaan tambang New Cinch Uranium mengaku menemukan emas yang kemudian dinyatakan bodong. Entah kebetulan atau tidak, baik New Cinch atau Bre-X sama-sama dari Kanada. Tidakkah kasus penipuan semacam ini bisa terulang dalam bisnis pertambangan?
  5. Kematian seseorang di seputar kasus tambang emas bodong, juga bukan yang pertama. Dalam kasus New Cinch Uranium, setelah perusahaan itu dicurigai merekayasa temuan emas, maka pengujian dilakukan di sebuah laboratorium independen, Chem-Tech. Nah, salah seorang pegawai laboratorium yang membuktikan bahwa New Cinch berbohong, mati misterius. Sekali lagi, tidakkah hal semacam ini bisa terulang?

Fakta-fakta dan pertanyaan di atas menarik. Tetapi tidak cukup sebagai bahan untuk menarik kesimpulan bahwa ada rekayasa di balik kabar kematian de Guzman. Karena itu Bondan membutuhkan fakta-fakta yang lebih detil dan rinci di lapangan. Butuh verifikasi. Apa yang terjadi dengan cerita "kematian" Guzman barangkali akan melengkapi gambar besar bahwa Bre-X dengan sengaja telah melakukan penipuan terbesar dalam sejarah pertambangan. (bersambung...)


Tag: Investigasi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

cahPamulang 0 0
sambungannya mana gan?

Silahkan login untuk memberikan pendapat