Nembak KTP 8
Senin, 9 Nov '09 10:43
Kian paham saya, bahwa Indonesia memang benar-benar sorga bagi koruptor. Tak usah ngomongin kelas milyaran, yang receh pun bisa jadi segunung jika ditimbun bertahun-tahun. Kebetulan, saya mengalaminya di kantor Samsat, Sleman, akhir Oktober lalu. Tanpa KTP, perpanjangan STNK bisa kelar dalam waktu kurang dari tiga jam.
Ceritanya begini: Sepupu saya memiliki mobil tua yang terdaftar di wilayah Kabupaten Sleman, DIY. Sejak dibeli hingga kini, nama yang tertera pada BPKB dan STNK masih pemilik lama. Hanya karena tak mau repot saja, sepupu meminta saya datang ke kantor Samsat, karena nanti sudah bakal disambut pengobral jasa alias calo.
Benar. Baru mendekat kompleks Samsat, seseorang melambaikan tangan, menunjukkan lokasi parkir. Begitu berhenti, dua orang menghampiri, seraya bertanya akan lengkap-tidaknya persyaratan yang saya miliki. "Tak ada KTP," jawab saya.
Saya diajak ke sebuah warung yang bersebelahan dengan Kantor Samsat. Lelaki berusia 30-an tahun itu menyodorkan daftar 'tarif' nembak KTP. Untuk mobil keluaran sebelum 1995, tertulis angka Rp 185 ribu. Tarifnya pun bervariasi, hingga yang termahal sebesar Rp 230 ribu untuk mobil-mobil keluaran terbaru. Catatan tarif itu ditulis tangan, tersimpan rapi di balik plastik bening sisi dalam dompet.
Tawar-menawar pun berhenti pada angka 'jasa nembak KTP' sebesar Rp 150 ribu. Deal!
Urusan pun beres setelah si penjaja jasa itu meminjam BPKB untuk difotokopi dan saya menyerahkan sejumlah uang, termasuk ongkos jasa yang dihargai Rp 35 ribu. Lelaki itu segera meninggalkan saya, memasukkan berkas di dalam kantor Samsat.
Kurang dari 15 menit, dia keluar lalu berbincang. Katanya, ia membentuk satu tim yag terdiri dari tiga orang. Dalam sehari, ia mengaku bisa memperoleh tiga 'klien' rata-rata. Bulan-bulan ramai, dimana mereka bisa memperoleh 'klien' hingga tiga kali lipatnya, adalah Juni-Juli dan November-Desember.
Masih kata Mas Calo itu, jumlah pemohon perpanjangan aneka jenis kendaraan rata-rata mencapai 800 per hari, sedang pada bulan-bulan padat bisa mencapai 2.000 pemohon.
Alasannya, "Banyak orang membeli kendaraan bermotor pada akhir tahun untuk bergaya. Kalau yang pertengahan tahun, biasanya untuk keperluan sekolah atau masuk kuliah."
Rupanya, tak cuma sebatas nembak KTP untuk perpanjangan. Bahkan untuk mutasi dan balik nama sekalipun, para calo itu bisa mengurusnya. Sudah ada 'tarif resmi' dari dalam (kantor).
'Beruntung', mobil sepupu saya dibeli secara wajar. Saya hanya bisa membayangkan, 'kemudahan' demikian bisa menjadi celah maraknya pencurian. Tanpa pemeriksaan fisik, baik kendaraan maupun keaslian BPKB, proses perpanjangan STNK berlangsung lancar dan damai. Bagaimana kalau itu terjadi pada kendaraan hasil curian sehingga ber-BPKB palsu?
Celah korupsi, memang banyak sekali. Saya tahu, apa yang saya lakukan adalah tindakan keliru. Demi pingin tahu dengan mata kepala sendiri, lalu menuliskan pengalaman itu di sini.
Jujur saya katakan di sini, bahkan untuk lapan anem dengan polisi di jalan raya pun tak pernah saya lakukan. Setiap salah, saya memilih mengikuti sidang tilang. Sistem dada alias pamer identitas sehingga dianggap 'mitra' lalu memperoleh 'dispensasi' ketika berjumpa sebuah razia pun tak pernah saya lakukan.
Semoga, cerita ini berguna bagi Anda, bagi kita semua, untuk menjadikan Indonesia sebagai negeri bebas korupsi. Salam Cicak....
Tag: cicak, korupsi, samsat, BPKB, STNK
Terkait:
-
Apa Kabar Cicak?
Senin, 18 Jan '10 15:08 -
Cicak Begins | Batman Begins
Selasa, 1 Des '09 15:17 -
Pidato SBY menata papan catur untuk remis
Rabu, 25 Nov '09 10:53
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Admin: Penting
-
radnan.akyara: Penting
-
TheoDorus Gabriel: Penting
-
reposter: Terbaru
Hermawan Sulistyo, Pengamat Politik

Komentar:
Apakah itu korupsi kecil-kecil atau korupsi yang WOW...tapi kalau kita mulai bertekad dari diri kita sendiri untuk bersih dari korupsi, bangsa ini pasti bisa jadi lebih baik.
ya udah deh, daripada nolak ntar di bikin ribet, krn STNK saya telat 1 tahun (hehehe...)
besok nya beres, saya gk telepon pak polisi nya, nanti no hp saya di save lagi... ogah ah,mending kalo cakep... heheheh
kantor samsat, ngurus STNK+ganti plat nomor, tanpa KIR, tanpa KTP, BPKB bisa jadi cepet, tinggal dateng setengah jam sebelum istirahat, ntar istirahat lebih 15menit paling dah jadi, tinggal nambahin duit ngga nyampe 150rb dari tarif normal. trus di kantor2 desa, kecamatan(yang atas2nya lagi belom pernah), kantor polisi juga, mo bikin KTP, SKCK, kluarnya duiiit terus, duiit terus, alasannya klasik, biaya administrasi. bikin SIM juga ngga nyampe 1jam jadi, biaya
hehe
Lanjut pada hari kedua tsb saya konsultasi pada salah seorang bagian SIM, dan transaksi 'salam tempel' 125 ribu dan beres 'anda lulus dan bisa masuk ke ruang foto', hmm.... . Dan kalau di hitung2 memang benar option kedua yang berlaku 200 ribuan untuk membuat SIM. Pada hari kedua tersebut, sembari menunggu untuk di foto, saya melihat seorang anak muda yang juga sedang menunggu mencari SIM, secara iseng saya bertanya 'dari jam brapa dik disini'. Alangkah kagetnya saya setelah tau kalau dia sudah menunggu dari jam 10 pagi, sampai saya datang jam 12 siang dan 15 menit kemudian melakukan proses foto, anak tersebut masih diruang tunggu dan belum dipanggil. Dalam hati saya jujur, saya tidak terima dan sangat kasihan. Tetapi apa mau dikata, kondisi waktu itu SIM saya sudah mati 1 hari yang lalu dan sangat lebih beresiko di jalan jika ketemu 'buaya-buaya' lain. Huffh... anak buaya saja dimakan ibu buaya. Apalagi cicak...
- yang satu saya dapatkan karena memang ktp asli saya di daerah, saat perpanjang itu seingat saya hanya berikan 1 bungkus rokok untuk kerja kerasnya.
- kedua karna saya sedang berada dijakarta dan maraknya razia ktp, saya pun membuat ktp lewat salah satu RT (padahal bukan RT saya tinggal saat itu) dengan cara nembak, alhasil saya harus mengeluarkan 250rb utk itu, dan 1 bulan kemudian jadi.
- dan yang ke 3, karena tidak puas dengan ktp hasil nembak, saya mencoba masuk ke salah satu keluarga, mendaftar sebagai anggota di Kartu keluarganya, kebetulan keluarga itu adalah pemilik kontrakan saya, dan saya diizinkan. lalu langsung saya buat ktp lewat bantuan petugas RT setempat dan tanpa kluar duit sedikitpun jadi hanya dalam 2 minggu.... antara rasa puas dan bingung... haha....
semudah itu lah membuat yang namanya "Kartu Identitas Penduduk" di indonesia...
Silahkan login untuk memberikan pendapat