Generasi Garuda dan Evan Brimob 6

Selasa, 10 Nov '09 10:53

Jejaring sosial telah mampu menyuarakan suara rakyat dengan lebih jujur dan berani. Beberapa pergerakan lahir tumbuh dan berkembang di dunia maya, dan isu2 pun lebih cepat menyebar di dunia maya. Beberapa waktu lalu Facebook yang sempat rame dengan berita 1000000 dukung KPK. lalu disusul dengan Evan Brimob.

Namun berbeda dengan Face book di Twitter isu korupsi sepertinya kurang trendy, Gak tau apakah karena kurang keren beritanya atau karena apa? Atau mungkin karena orang yang saya follow dan follower saya gak minat ke situ ya gak tau juga. Tapi ketika saya tanya ke beberpa orang dan cari jawaban dari kenapa gak minat sama korupsi rata2 pendapat mereka seragam. Mereka tidak mau terlibat terlalu jaiuh ke dalam lingkaran permainan politik, mereka harus tau dulu fakta yang ada sebelum membela istitusi tertentu, mereka merasa ada hal yang lebih penting dan sebagainya.

Berbeda dengan dulu waktu ada Bom meledak. Twitter begitu ramai hingga lahir slogan KAMI TIDAK TAKUT bahkan sampai melahirkan indonesiaunite yang kemudian diikuti dengan para pemuda yang mengusung gerakan nasionalisme lainnya. Waktu itu para pemudia di dunia maya (dan juga dilanjutkan di dunia nyata) dengan semangatnya meneriakkan bahwa Indonesia adalah negara yang keren tidak mudah di pecah belah dan tidak bisa di takut-takuti. Betapa bangganya waktu itu sebagai generasi muda.

Tapi mengapa disaat negara sedang diusik sama koruptor, ketika bangsa indonesia tengah di pecah belah oleh penjahat negara ini, mereka gak seribut itu ya?

Padahal sama dengan terorist koruptor adalah musuh…. Ketika kita melawan terorist sebenarnya yang kita lawan bukanlah Nurdin M Top, bukan Boim, bukan juga Imam Samudra tapi Terorist sebagai musuh bersama lah yang kita lawan dengan kampanye “kami tidak takut” itu. Dalam hal ini tanpa harus tahu fakta apakah ada konspirasi bahwa terorist itu sebenernya ada atau tidak, apakah Noordin ada atau tidak bahkan Osama bin Laden itu beneran ada atau tidak…itu tidak penting… yang pasti saat itu kita sedang di teror dan kita bisa melawan teror itu dengan mengatakan KAMI TIDAK TAKUT.

Tapi ketika berbicara Korupsi yang terjadi saat ini terlihat ada rasa takut, Takut terjebak dalam lingkaran politik takut kalo udah membela institusi ini ternyata yang bener institusi itu, tkut salah ngomong, takut kalo terlalu vokal nanti ditembak sama kaki tangan koruptor. Dan segala ketakutan lainnya.

Padahal sebenernya tanpa harus bela institusi tertentu, tanpa harus tau berita cicak buaya, tanpa harus tau anggodo lahir di mana dsb, secara nyata dan terus menerus efek korupsi hadir di depan kita betapa tertinggalnya indonesia di beberapa bidang, lihat kelaparan, lihat ibu-ibu meninggal saat melahirkan, dengar berita keluarga diusir dari RS karena gak bisa lunasin biayanya, lihat TKW dipukuli di negeri orang, lihat guru yang nyambi jadi tukang sampah. Percaya atau tidak itu semua terjadi karena mereka gak kebagian uang untuk makanan bergizi, untuk beli air buat cuci tangan sebelum makan, untuk membantu persalinan, untuk ngasih makan anaknya, untuk bayar rumah sakit, dan sebagainya…. Jawabannya bukan karena mereka gak kerja. Tapi karena mereka tidak mendapatkan apa yang seharusnya layak mereka dapatkan. Harusnya mereka layak mendapatkan Uang lebih untuk kesejahteraan mereka (kok ada perasaan risi ya waktu nulis kata Uang…-penuis-)

Terus uangnya pada ke mana ya jawabannya ke mana lagi kalo bukan ke kantong koruptor entah bagaimana berliku-likunya jalan menuju ke sana tapi tetap berujung ke sana ke kantong koruptor, kemana lagi masa menguap gitu aja…. dan kita semua rata-rata tau itu…Terlalu jauh ya? nggak juga, perhatikan apa yang terjadi di Jakarta dan bandingkan dengan daerah terpencil di NTB sama2 di indonesia harusnya mereka mendapat kesejahteraan yang sama…. gak harus bikin gedung pencakar langit di sana sih cukup rumah sakit dan pengadaan air bersih…. dan jika kita mau tanya ke pemerintah kenapa hal itu tidak terwujud, jawabannya di jamin klise dan setipe, dana sudah terbagi rata dengan baik, alasan otonomi daerah menghambat pemerataan pembangunan, dan segala macam kalimat ngeles lainnya…. tapi intinya nggak nyampe-nyampe tuh yang namanya sejahtera… semua orang sudah juga tahu jawabanya simpelnya, uangnya di korupsi.

Sekali lagi sebenernya efak dari Korupsi kolusi dan teman2nya sudah gamblang di depan mata tapi ada ketekutan yang masih menyelimuti untuk membongkarnya. Takut salah ngomong, takut terjebak ke politisasi sampai takut di tembak di jalan raya sama orang sewaan koruptor itu tadi.

lalu Gimana dong?

Saya Pernah baca koran kompas lupa tanggalnya ingetnya cuma edisi hari minggu (kalo ada yg inget kabarin ya pengen saya kliping soalnya) disana Noe Letto nulis tentang generasi garuda. tugas kita generasi garuda adalah memutus lingkaran hidup koruptor. yang diibaratkan sebagai nyamuk, koruptor itu punya lingkaran hidup yang terus terjadi dari Telur-larva-pupa-sampai jadi nyamuk jahat yang suka nyedot darah rakyat dan nanti nyamuknya bertelur lagi dan seterusnya.

Gimana cara mutusin rantai hidup ini, salah satunya dengan meniatkan untuk memutus rantai siklus hidup koruptor. Walopun keluarga dan lingkungan kita banyak korupsi tapi putus sampai di generasi mereka saja. mungkin bisa diawali dengan mengucapkan sumpah bersama “kami Putra putri Indonesia Berjanji untuk tidak melakukan korupsi dari sekarang dan selamanya ada ataupun tidak ada kesempatan.” Toh orang2 tua yang lagi ribut itu 20 tahun lagi udah pada mati biarin mereka ribut sendiri.

Atau bisa dengan denga berhenti tergantung dengan orang lain. Semua dilakukan dengan tangan dan fikiran sendiri. Sehingga gak perlu memohon-mohon ke instansi manapun untuk melancarkan proyek. Pernah saya dengar ada EO yang pengen bikin acara di bunderan HI Jakarta demi kelancaran acara mereka menyetor uang sejumlah tertentu pada pengatur lalu lintas biar acaranya lancar nah saya kurang yakin apakah ini termasuk korupsi menurut saya sih iya minimalnya mirip.

Kalau mau yang lebih extrim semprot nyamuknya, laporkan kakek, ayah, ibu, om tante kalian atau keluarga teman kita bila kita tau mereka korupsi… yang ini memang dipandang berat, soalnya pelapor ngerasain hasilnya juga hehe.

mungkin di jakarta dan kota besar lainnya banyak anak muda gak kepikiran untuk korupsi.
“ngapain saya korupsi, saya bisa berkarya, saya bisa nyanyi, saya bisa jadi artis sinetron, saya bisa jualan online” kalo melihat contoh EO di atas tentu harus berfikir dua kali mengenai hal ini…

Saya sering bertanya Apakah para koruptor itu tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu salah?

Waktu ada kasus Evan Brimob saya seperti menemukan jawabannya. Menurut saya evan Brimob adalah larva yang jika didiamkan akan menyambung lingkaran hidup Koruptor. Evan Brimob dengan pandangannya bahwa “rakyat yang butuh ’dia’ dan bukan ‘dia’ yang butuh rakyat” maka kemungkinannya akan besar sekali saat dia naik pangkat dan dia punya kuasa, maka keyakinannya itu akan beranak-pinak secara salah kaprah menjadi “karena rakyat yang butuh saya maka saya berhak dapet lebih” dan keyakinan yang menurut dia dianggap benar ini selanjutnya akan kembali menjadi cikal bakal terjadinya KORUPSI yang dilakukan tanpa rasa bersalah. Dan sedih rasanya ketika mengetahui bahwa masih banyak pemuda dengan keyakinan seperti Evan Brimob di nusantara ini.

Jadi Mungkin kita tidak harus larut berteriak membela institusi yang belum ketauan bener apa salahnya. Lebih baik mengajak diri sendiri untuk menjadi Generasi Garuda, bukan Generasi Nyamuk yang suka menghisap darah manusia. Gak perlu ikutan jadi pembela institusi yg mengatasnamakan cicak kalo belum yakin, gak perlu ikutan jadi Buaya apalagi jadi nyamuknya. Berjanjilah untuk menjadi generasi garuda.


Tag: buaya, cicak, kpk, polisi, facebook, koruptor, Kasus, evan brimob, generasi garuda, indonesia, twitter, kriminalisasi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

heromorphosis 1 suka | 0
wow, sama seperti yang saya pribadi pikirkan...
betapa susahnya mengingatkan generasi muda ini dengan bahaya korupsi..

saya punya mengusulkan untuk membuat cause dalam indonesiaunite untuk antikorupsi, tapi sampai sekarang admin indonesiaunite belum merespon..
ada yang bisa membantu?

atau mulai sekarang kita buat topic di twitter saja dengan tag #antikorupsi..
kareef 0 0
Hhhhmmmm mengapa mereka di twitter takut untuk menyuarakan tentang korupsi? jika alasannya hanyalah ketakutan ditembak dsb itu merupakan bukan jawaban...

ataukah mungkin mereka sudah masuk ke dalam lingkaran nyamuk tadi?

untuk memutus lingkaran nyamuk tidak semudah seperti yang kita bayangkan... butuh perjuangan dan bahkan pengorbanan...

bagi yang belum siap untuk berkorban, maka tidak akan bisa memutus lingkaran nyamuk tadi. karena lingkaran itu sudah berkembang sedemikian sistematis dalam suatu atau bahkan semua system pemerintahan.
seperti makan buah simalakama. jika kita masuk lingkaran maka automatis kita menjadi nyamuk... tapi jika kita keluar lingkaran mungkin harapan hidupnya menjadi tipis ditengah para nyamuk yang mengerumuninya...
muti 0 0
jawabanyya simpel kok, teroris sudah jelas2 BERSALAH, tapi klo kasus korupsi ni, kita tidak tahu siapa yg benar2 bersalah.. kita tidak mau asal tuduh asal bela hanya karena opini publik yg lagi trend
lukito 0 0
setuju dengan semuanya.

@ kareef
saya tidak menuduh mereka masuk lingkaran nyamuk lho. saya hanya melihat mereka diam tidak bersuara . dan memang tidak mudah melawan korupsi. tapi dengan berjanji pada diri sendiri untuk tidak mau jadi koruptor dan menepatinya saya rasa masih bisa diusahakan. Banyak kok pedagang di pasar2 yang sampe mati gak jadi koruptor. dan tetap bisa hidup tanpa masuk lingkaran. jadi mari berjanji pada diri sendiri untuk meletakkan diri sejauh mungkin dari kerumunan nyamuk : ) itu aja dulu.

@Muti
jawabannya bener Teroris memang bener2 BERSALAH tapi KORUPTOR? kalo ragu bahwa koruptr benar2 bersalah ya silahkan saja ... tapi menurut saya sama kaya teroris koruptor sudah jelas2 BERSALAH cuma masalahnya siapakah orangnya? nah itu biar tugas bapak2 diluar sana yang lebih senang berdebat itu yang ngurusin. kita tinggal berjanji untuk tidak seperti para koruptor itu dan janji gak ikut jadi mata rantainya. istilahnya kalo buyut kita maling kakek kita maling bapak kita maling ya kita jangan jadi maling biar anak cucu kita gak jadi generasi maling. dan kalo mampu suarakan janji itu tapi kalo memilih diam juga gak bisa dipaksa : )
iq_balle 0 0
saat ini kita mesti hati2 dengan situs jejaring yhaa
abu zahidah 0 0
yang pasti harus pandai2 memanfaatkan...

Silahkan login untuk memberikan pendapat