Suap Kecil, Suap Besar dan Partai Politik 0

Selasa, 10 Nov '09 00:33

Kliwon masih asyik minum es jeruk di warung nasi kucing di depan gang rumahnya. Telepon selulernya, berdering pendek, maklum memang gak bisa panjang, soalnya, sudah tergolong telepon seluler dengan merek yang uzur. "Om..., saya mau ndaftar guru negeri, tetapi harus bayar 35 juta, 50% bayar di muka, dan 50% lagi dibayar setelah dinyatakan lulus, menjadi pegawai negeri." Begitulah bunyi pesan pendek itu.

Mak jeglek, hati Kliwon berdidih-mendidih. Ini sungguh keterlaluan. Bagaimana mungkin keponakannya, yang selama ini menjadi guru honorer, dibayar pas-pasan, bahkan tidak cukup untuk sekedar membiayai transportasi dan memberli bedak, harus menyediakan uang sebesar itu jika hendak ingin menjadi pegawai negeri. Dan tentu saja, tidak menjadi guru honorer lagi.

Keterlaluan. Karena saat negeri ini digoyang oleh beragam-ragam isu tindakan korupsi, pada proses rekruitmen calon pegawai negeri harus melalui tawaran suap yang luar biasa besarnya, untuk ukuran ekonomi keluarga Kliwon. "Alamak, apa yang sedang terjadi di negeri ini, biyung," bisik hati Kliwon.

Mungkin saja, nilai suap yang harus diberikan oleh keponakan Kliwon terhitung kecil secara individu. Tetapi, jika dijumlah berapa banyak orang yang berposisi seperti keponakan Kliwon itu, menjadi sungguh luar biasanya besarnya. Celakanya lagi, moda ini mengambil langsung dana segar dari si miskin, dari si papa, yang hendak memperbaiki nasib diri secara ekonomi. "Kalau sudah begini, bagaimana penghuni binatang tidak berhamburan dari mulut saya," rutuk Kliwon dalam hati. Maklum saja, Kliwon penganut agama taat, sehingga tidak mau mengumpat dengan nama-nama binatang.

Betapa luar biasanya, kerusakan dan kebrobokan nilai kemanusiaan di negeri ini. Semua sistem yang bekerja, begitu mengguritanya pikiran-pikiran jorok. Suap kecil, berhambur-hamburan pada level rakyat miskin dan dimiskinkan, rakyat pinggiran yang dipinggirkan. Suap besar, meraja lela, menghabiskan uang negara bermilyar-milyar jumlah. Ketika berbagai kasus suap besar itu sedang dipersoalkan, suap kecil tertawa-tawa dan terprrhatikan.

Kliwon merunduk. Batuknya meledak-ledak. Sate telur puyuh, mengganjal di jalan pernapasannya. Kliwon tiba-tiba menjadi sangat malu menjadi warga negara negeri ini. Batuknya semakin menjadi-jadi, manakala pikirannya tiba-tiba teringat begitu hangat mengenbai janji-janji partai, saat kampanye awal tahun ini. Semuanya anti korupsi, semuanya berjanji akan membersihkan tindakan korupsi. Tak ada yang terlewatkan bicara korupsi. Tapi..., tapi..., Kliwon belum mendengar suara para pimpinan partai saat terjadi ginjang-ganjing di lembaga yang didedikasikan untuk pemberantasan korupsi di negeri ini. Ketika berbagai dugaan korupsi seakan sudah begitu nyata di depan mata.

Kliwon ingin mengajak rakyat kebanyakan untuk mempertanyakan kepada partai politik yang dipilihnya, yang telah menjanjikan pemberantasan korupsi di negeri ini. Tetapi Kliwon kembali tercekat. Kali ini tersedak atas kesadarannya sendiri, "bagaimana mengharapkan partai politik, manakala pimpinan partai, anggota partai, sebagiannya duduk di kabinet pemerintahan yang diragukan benar, kehendaknya untuk menghapuskan korupsi di negeri ini."***


Tag: suap, partai politik, kabinet

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat