Cerita tentang Korupsi (1) 1
Rabu, 11 Nov '09 00:24
Kira-kira lima tahun silam, seorang teman –sebut saja namanya Sontolebay, meminta saya menghubungkan dirinya dengan seorang bupati. Kebetulan dia tahu, saya merupakan salah satu teman sepermainan Pak Bupati semasa kuliah dulu. Intinya, Sontolebay ingin menawarkan buku untuk sekolah dasar dan madrasah ibtida’iyyah (SD/MI).
Singkat cerita, saya bersedia dengan sejumlah syarat, di antaranya deal harga sudah kelar antara Sontolebay dengan saya. Dalam hal ini, Sontolebay mewakili sebuah penerbitan besar dengan jangkauan nasional. Argumentasi saya, saya tak ingin ada tawar-menawar model jual-beli di pasar tradisional antara dia dengan Pak Bupati.
Alasannya sederhana: saya tak tahu, apakah sahabat saya yang sudah jadi bupati itu menggemari komisi atau tidak. Sebab, kepada saya, dia selalu bilang tidak suka sogok-sogokan, dan sepanjang yang saya dengar, memang namanya masih bersih. Kebetulan, saat itu merupakan tahun kedua dia menduduki posisi kepala daerah.
Tak terlalu alot, kesepakatan sementara sudah tercapai. Dari diskon 40 persen, lantas naik lagi menjadi 45 persen. Hmm… diskon luar biasa, pikir saya.
Namun, saya masih penasaran dengan diskon sebesar itu. Apakah sudah ada margin kentungan untuk dia sebagai agen/marketing? Berikut intisari dialog tawar-menawar kami:
Diskonnya masih bisa dinaikkan lagi, nggak?
Masih. Tapi kalau dibuat mepet, kita tak dapat apa-apa….
OK. Sekarang begini saja: berapa target keuntunganmu? Apakah ada alokasi fee untuk saya?
Iya. Dengan diskon 45 persen, berarti masih ada keuntungan lima persen. Itu untuk kita berdua. Maksimal, kantor minta 50 persen itu dari total nilai anggaran. Soalnya, nilai itu sudah termasuk untuk biaya produksi, promosi, gaji karyawan dan keuntungan perusahaan. Kalau diskonnya lebih dari itu, sepertinya sudah tak mungkin.
Baik. Saya tak mengambil ‘hak’ saya yang dua setengah persen. Bagaimana kalau saya tawarkan diskonnya 47,5 persen. Nanti kamu ketemu sendiri, bicara empat mata, supaya Pak Bupati tak sungkan dengan saya. Tanyakan saja, mau diminta dalam bentuk uang atau barang, silakan diselesaikan sendiri.
Ya. Begitu juga bagus.
Pembicaran berujung pada kesepakatan diskon, yang lantas saya sampaikan ke Pak Bupati. Jujur, saya tak mau mengorbankan persahabatan saya dengan menempatkan posisinya sebagai bupati melakukan tawar-menawar yang menurut saya tak etis. Persoalan Pak Bupati mau mengambil duit ‘diskon’, saya tak mau tahu. Seperti aturan dalam angkutan umum, risiko ditanggung masing-masing.
Memang, pada akhirnya, saya tak mendengar adanya kerjasama antara dua orang yang sama-sama teman saya itu. Cuma, yang jadi pertanyaan saya hingga kini adalah besarnya nilai diskon yang berpotensi menjadi obyek bancakan para pejabat daerah, yang konon biasanya melibatkan setidaknya pejabat daerah, Kepala Dinas Pendidikan, dan pejabat komisi yang membidangi pendidikan di DPRD setempat.
Sepanjang yang saya tahu, kalau tak keliru, dana alokasi khusus (DAK) untuk pengadaan buku pelajaran SD/MI di kabupaten/kota dengan penduduk terkecil saja mencapai 15 miliar per tahun. Padahal, daerah dimana teman saya menjabat itu termasuk kategori satu di antara lima daerah terluas dengan penduduk terbanyak pula se-Jawa Tengah.
Taruhlah angka DAK ‘hanya’ Rp 15 miliar. Itu artinya sudah ada potensi bancakan duit sebanyak Rp 6,75 miliar!!! Itu baru satu kabupaten. Tak sanggup saya membayangkan nilai kumulatif untuk satu provinsi, apalagi se-Indonesia.
Pantas saja seseorang, baik yang kebanyakan maupun orang-orang partai pada berebut jabatan kepala daerah. Gajinya memang tak seberapa, tapi ternyata sabetan-nya sungguh luar biasa.
Andai terjadi transaksi, mungkin kedua teman saya itu sudah masuk bui, atau mungkin sudah jadi ‘santapan’ cicak dan buaya. Dan saya? Tentu saja akan terbawa-bawa, terseret dalam pusaran kasus dan menjadi orang yang dinista oleh para teman, sahabat dan saudara-saudara saya.
Salam Cicak dari saya…..
Tag: buku ajar, SD, MI, bupati, diskon, madrasah
Terkait:
-
Tahun 2010 adalah Tahun Politik Lokal
Senin, 29 Mar '10 17:05 -
Demokrasi Belum Membawa Kesejahteraan Rakyat
Jumat, 12 Feb '10 20:46
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Adie 'crawl' Ndasmukrowakcuk: Bagus
-
maztrie: Bagus
Hermawan Sulistyo, Pengamat Politik

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat