Kita Butuh Elliot Ness Versi Indonesia 4

Sabtu, 21 Nov '09 21:14

Bagaimana bila kasus Chandra-Bibit benar-benar deponering? Apakah ini yang terbaik, demi kepentingan umum?

Deponering, artinya mengenyampingkan berkas-berkas perkara dugaan pemerasan, penyuapan, dan penyalahgunaan wewenang dengan tersangka Chandra-Bibit. Deponering ini merupakan sistem yang ada di Kejaksaan Agung. Deponering juga menjadi salah satu saran dari Tim 8, Tim Independen Verifikasi Fakta dan Proses Hukum. Alasannya karena kurangnya bukti.

Memang, semakin lama, kasus ini semakin menjadi-jadi dramanya. Alasan menguak kebenaran jadi menguak aib-aib pada peradilan Indonesia. Ya, karena dengan adanya kasus ini, masyarakat awam jadi mengetahui adanya makelar kasus atau markus peradilan Indonesia. Kita yang awam jadi miris melihat aparat yang mudah sekali disetir oleh duit. Namun yang paling menggelikan adalah bahwa pihak yang tampak jelas melakukan kesalahan tidak didiadili, sementara yang masih buram kesalahannya justru dijadikan tersangka.

Apalagi masyarakat mulai membanding-bandingkan penyelesaian kasus korupsi ini dengan kasus Bu Minah yang dikenakan tahanan rumah 1 bulan 15 hari karena membawa 3 kakao, seharga Rp 2100,-, dari perkebunan PT RSA. Ironis sekali melihat perbandingannya. Benar-benar bukan pendidikan hukum yang baik.

Belum lagi dengan kurang tegasnya Pimpinan Bangsa. Yup, masyarakat tidak sabar menunggu tindakan Pemimpinnya yang selalu mengatakan akan menjadi orang pertama yang akan menghadang siapapun penghalang KPK (dalam artian, mereka yang menghalangi pemberantasan korupsi).

Jadi, wajarlah kalau sekarang kita bermimpi akan ada Elliot Ness berikutnya, FBI yang tak kenal lelah melawan mafia, hingga berhasil menjatuhkan gembong mafia Al Capone. Kita butuh sosok Elliot Ness versi Indonesia yang berani tegas dan tak kenal lelah memberantas koruptor atau mafia peradilan, entah itu dari KPK, Kejaksaan, MK, atau bahkan Presiden RI sendiri.

 

 


Tag: koruptor, indonesia, mafia, elliot ness

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

rockitty 0 0
I dont thinks so... Mr. Eliot bisa begitu karena lahir dari sikap mental yang tinggi juga sistem yg tegas & mengikat... di negeri Ku yg tercinta ini... blm ada aturan yg jelas semua bs dibengkokan dengan dalih MUSYAWARAH untuk mufakat! a.k.a KOLUSI yg membela kepentingan sepihak... & sikap mentalnya... msh patut dipertanyakan... : ((

Kita butuh orang sejens Mr. Ahmad Dinejad, yg mau merasakan kepedihan si Miskin yg mencuri kakao... yg mau tidur beralas tikar... yg menjual semua isi istana presiden untuk rakyat miskin, yg ga bth karpet merah , juga air mineral se-fancy Evian di mejanya... yg mematikan lampu diruang kerjanya ketika membicarakan hal pribadi... too good to be true...

ideal memang relatif, tp yg mutlak adalah sikap mental!
where Is he? almost hard to find...
lukito 0 0
jangan bandingin dengan Ahmad Dinejad ah ...malu sendiri ....kejauhan.... : )
cahPamulang 0 0
sementara nggak bisa kasih koment, kecuali puyeng saja,
siapa yang bisa jadi hero kedepan ini.
rockitty 0 0
Loh kok ... kenapa musti malu Bro? kenapa kejauhan? wekekek : p seperti guru saya bilang... "gantungkan harapanmu setinggi langit... tapi jangan lupa kaki tetap berpijak di tanah... " pasti bisa kalo mau...

lagian sy gak bandingin sapa pun dgn Mr. Dinejad kok... xixixix dia mah limited edition... : p yg se-type gak keluar lagi... : ))

What I try to say is " We need that kind of men!!!" : ( & ... sikap mentalnya lah yg hrs ditiru... ... : )) krn masalah mental-lah yang mengganggu negara ini... si gw hanya bs berharap sambil beropini ria ... atau mimpi pun sdh tdk boleh? parah..... \m/ puyeng juga ahh ZzzzZZZzzzz
: ))

Silahkan login untuk memberikan pendapat