Tiada Ciuman pada Hari Valentine 0
Rabu, 17 Feb '10 19:01
Hari Valentine yang jatuh pada tanggal 14 Februari 2010, kali ini bertepatan dengan perayaan imlek. Setelah liburan akhir pekan (weekend), hari sabtu (13/02) semua undangan terpaksa saya batalkan, hanya kegiatan rutin yaitu beresin arsip dan cari ide artikel apa yang akan ditulis selanjutnya.
Dari beberapa email yang masuk hingga jumat malam (12/02), ada undangan kategori pemenang foto jurnalis 2009 yang masih saja dikirim setiap harinya selama seminggu terakhir oleh panitia penyelenggara. Ngecek facebook (RACHMAD BACAKORAN, pakai rbacakoran at yahoo dot com), banyak juga kiriman hadiah valentine dari beberapa orang, macam-macam bentuknya, pekan kemarin malah Qori Sandioriva Putri Indonesia tahun 2009 telah mengirim bunga mawar valentine dan kamis 11 Februari 2010, si Qory juga mengirim hadiah valentine berupa kue coklat berbentuk Love (CINTA), namun hadiah-hadiah tersebut tidak pernah saya balas hanya komentar singkat makasih atas hadiahnya.
Minggu pagi, 14 Februari 2010, Hari Valentine, kota Jakarta sejak subuh gerimis terus turun, malahan dini hari tengah malam hujan turun dengan derasnya. Sore hari saya datang ke Galeri Nasional jam 18:00 WIB, ada acara Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2009 serta pembukaan pameran foto Jurnalistik terbaik 2009.
Setelah mengisi daftar buku tamu dilanjutkan makan malam, tiba-tiba wartawan cewek pewarta foto kompas datang pakai batik, saya menghindar ke tembok, dia jalannya cepat hampir diserempet kemudia DIA menuju toilet, lagi-lagi gerimis turun, beberapa orang sangat pucat sekali, lewat gang penerima tamu, 2 orang cewek tersebut terus menatap sampai-sampai pulpen yang di peganganya terjatuh, “Makanya Mbak lain kali kalau menatap/melihat jangan lama-lama, bisa copot mata kamu nantinya.”
Mobil B1 datang, oh ya itu mobil Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, bang Foke di jadwalkan untuk memberi hadiah kepada pemenang, sudah jam 19:00 WIB belum shalat maghrib, shalat dulu dimushala, hujan turun dengan derasnya, sekalian shalat Isya, banyak mobil di parkiran, jangan-jangan Mantan Wakil Presiden Jusuf kalla sudah datang.
I Don’t Care (Aku ngak peduli) siapa yang datang, hari ini khan hari libur. Diruangan resepsi sedang berlangsung acara pembagian hadiah untuk pemenang dan foto bersama dengan bang Foke. Saya berdiri saja di kursi paling kanan serta paling belakang, tiba-tiba pengumuman nama pemenang selanjutnya, di panggil nama cewek pewarta foto kompas Lasti Kurnia, kelihatan dia sudah 2 kali menang dan ini yang ketiga kalinya, dia datang dari belakang tempat teman-temannya yang memberi ucapan selamat, kemudian dia menaruh tasnya dikursi tempat saya berdiri, dia naik kepanggung mengambil hadiah dan balik lagi ketempat saya berdiri, sudah tiga tropy berarti 3 kali menang, tropy itu kemudian Lastri taruh dikursi tersebut.
Pengumuman selanjutnya adalah kategori terbaik dari semua foto-foto yang menang, pemenangnya jatuh kepada foto suasana pemakaman Gus Dur, acara selanjutnya adalah launching buku pewarta foto. Mantan wakil Presiden Jusuf kalla berfoto bersama para pemenang dan pidato. Sambil JK pidato jam 21:00 WIB, cewek wartawan kompas tersebut berdiri didepan saya, DIA terus mundur dan mundur mendekati diri saya dari jarak 50 cm sehingga tinggal tersisa ruang hampa selebar 5 cm, pipinya tepat di depan bibir saya, nafasnya sudah terasa hangat hangat sekali, hanya lampu didepan panggung yang hidup, dibelakang ruangan resepsi lampunya mati agak remang-remang kecuali lampu luar yang menyala, jadi suasananya sangat romantis sekali.
Dia terus menunggu selama 5 menit, kok belum dicium juga, akhirnya lasti marah sekali dengan muka merah dia injak kaki kanan saya, kemudian dia kebelakang menemui teman-temannya. Tadi sih teman-temannya yang ada di kanan kiri saya sudah memberi ucapan selamat kepada lasti hanya satu orang cowok malam itu yang tidak memberi ucapan selamat kepadanya yaitu saya. Lasti-lasti, kamu khan sudah nikah, kamu benar-benar ingin dicium?
Acara pembukaan pameran sudah dimulai, lasti datang lagi ke saya, berdiri dibelakang beberapa saat kemudian Dia jalan sambil menyentuhkan tangan kanannya ke tangan kiri saya, dia ambil tasnya lalu hilang entah kemana. Lihat-lihat pameran dulu, eh si lasti muncul lagi di samping saya, ikuti dulu Jusuf Kalla melihat pameran, si lasti hilang lagi. Saya kembali lagi ke ruang resepsi, duduk di belakang, si lasti muncul lagi, dia menuju kearah saya, taruh tasnya didepan kursi kosong, padahal kursi kosong lainnya masih banyak, kok taruh didepan saya lagi. Sudah beberapa tahun tahun jumpa dengannya tetapi ngak pernah berbicara baik di acara seminar, diskusi maupun pameran.
Saat di BBJ (bentara Budaya Jakarta) kompas, lasti selalu mengambil gambar saya, kadang-kadang dia melamun, matanya menatap kearah saya tetapi kamera ditangannya terus di jempet berkali-kali entahlah hasilnya, banyak foto saya saya yang dia ambil secara sembunyi-sembunyi tetapi tidak pernah dikirim. Baru malam di hari valentine ini saya menyapa lasti,”Tasnya penuh ya, satu tropy ngak muat ditas, sudah ambil kupon door prize nya, sudah, tadi tangan kanan dicap seperti sapi, ” kata lasti salah tingkah.
Bincang-bincang ala kadarnya, pembagian door prize, sampai acara selesai saya tidak memberi ucapan selamat kepada lasti.
Tag: facebook, kompas, Jusuf Kalla, rachmad yuliadi nasir, love, cinta, bunga mawar, Valentine, Imlek, Tiada Ciuman pada Hari Valentine, galeri nasional, wartawan kompas, lasti kurnia, qori sandioriva, putri indonesia tahun 2009, anugerah pewarta foto indonesia 2009
Terkait:
-
Mengapa Harus JK bukan MJK (baca: MCK)
Selasa, 2 Mar '10 22:10 -
Kecendrerungan Media Dalam Pemilu 2009
Senin, 5 Apr '10 15:35 -
Demokrasi Belum Membawa Kesejahteraan Rakyat
Jumat, 12 Feb '10 20:46
Hermawan Sulistyo, Pengamat Politik

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat